LHOKSUKON - Raihan Iskandar, anggota DPR-RI Komisi X berkunjung ke Desa Teupin Keube guna menemui dan mendengarkan aspirasi dari perangkat desa dan masyarakat setempat terkait rencana pembangunan SMP Satu Atap di Desa Seunebok Dalam, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Jumat 27 April 2012 sekitar pukul 11.45 WIB.
Kepala SDN 12 Lhoksukon, Fakhrurizal menyampaikan, dalam rencana pembangunan Unit Sekolah Baru (USB), awalnya direncakan bertempat di Desa Teupin Keube. Namun saat Kementrian Pendidikan RI datang dan meninjau lokasi beberapa waktu lalu, mereka menolak lokasi Teupin Keube karena lahan yang tidak siap bangun dan tidak mencukupi.
“Pihak Kementrian meminta lahan yang tersedia minimal 6.000 meter dengan catatan siap bangun. Namun lahan yang tersedia di Teupin Keube hanya 2.700 meter dan masih rawa dan sawah, sehingga membutuhkan penimbunan,” terang Fakhrurizal.
Sepuluh menit kemudian, rombongan menemui masyarakat Desa Teupin Keube yang memang sudah menunggu sejak pagi hari. Pertemuan itu berlangsung di Musholla desa dengan jamuan air mineral.
Dalam pertemuan dan dialog itu, masyarakat menyatakan keberatan dengan rencana pembangunan SMP Satu Atap di Desa Seunebok Dalam. “Kita tidak terima jika SMP dibangun di Seunebok Dalam, mengingat dalam pengajuan proposal awal pembangunan itu ditujukan di Desa Teupin Keube,” ujar salah seorang warga.
Mendengar hal itu, Faisal Fahmi, anggota DPRK Aceh Utara, menjelaskan tentang penyebab pengalihan pembangunan SMP tersebut. “Pihak Kementrian hanya mau membangun SMP dengan cacatan tanah yang tersedia sudah siap pakai, tidak butuh pembebasan atau penimbunan, dengan luas minimal 6.000 meter,” jelas Faisal.
Usai mendengar penjelasan itu, akhirnya warga terima dengan rencana pembangunan SMP Satu Atap itu. Namun demikian, mereka meminta di desa mereka agar dibangun Sekolah Dasar. “Selama ini anak-anak harus menempuh jarak hingga 2,5 Kilometer untuk mencapai SDN 12. Maka dari itu kita minta agar dibangun SD di desa kami,” ujar Abdullah, Keuchik Desa Teupin Keube.
Keinginan itu mendapat anggukan dari Kepala SDN 12 Lhoksukon, Fakhrurizal. Menururnya, SDN 12 sudah over kapasitas. Pasalnya, para siswa berasal dari delapan desa. “Dengan adanya bangunan SD baru, maka dapat menampung siswa, mengingat jarak antara Teupin Keube – Seunebok Dalam cukup jauh dan mencapai 2,5 kilometer.”
Menjawab keinginan tersebut, kalangan DPR dari berbagai tingkat itu menjawab, “Jika memang dibutuhkan, maka pihak desa dapat melakukan pengajuan tersebut sesuai prosedur. Untuk pembangunan itu sendiri akan dimasukkan dalam anggaran tahun 2013 mendatang, mengingat dalam anggaran tahun ini sudah tidak tertampung lagi.”
Untuk pembangunan itu sendiri, warga diminta menyiapkan lahan yang memadai dan siap bangun tanpa butuh penimbunan, atau pun pembebasan lahan lagi.[]
sumber : atjehpost.com
foto: cut manda /THE ATJEH POST
Kepala SDN 12 Lhoksukon, Fakhrurizal menyampaikan, dalam rencana pembangunan Unit Sekolah Baru (USB), awalnya direncakan bertempat di Desa Teupin Keube. Namun saat Kementrian Pendidikan RI datang dan meninjau lokasi beberapa waktu lalu, mereka menolak lokasi Teupin Keube karena lahan yang tidak siap bangun dan tidak mencukupi.
“Pihak Kementrian meminta lahan yang tersedia minimal 6.000 meter dengan catatan siap bangun. Namun lahan yang tersedia di Teupin Keube hanya 2.700 meter dan masih rawa dan sawah, sehingga membutuhkan penimbunan,” terang Fakhrurizal.
Sepuluh menit kemudian, rombongan menemui masyarakat Desa Teupin Keube yang memang sudah menunggu sejak pagi hari. Pertemuan itu berlangsung di Musholla desa dengan jamuan air mineral.
Dalam pertemuan dan dialog itu, masyarakat menyatakan keberatan dengan rencana pembangunan SMP Satu Atap di Desa Seunebok Dalam. “Kita tidak terima jika SMP dibangun di Seunebok Dalam, mengingat dalam pengajuan proposal awal pembangunan itu ditujukan di Desa Teupin Keube,” ujar salah seorang warga.
Mendengar hal itu, Faisal Fahmi, anggota DPRK Aceh Utara, menjelaskan tentang penyebab pengalihan pembangunan SMP tersebut. “Pihak Kementrian hanya mau membangun SMP dengan cacatan tanah yang tersedia sudah siap pakai, tidak butuh pembebasan atau penimbunan, dengan luas minimal 6.000 meter,” jelas Faisal.
Usai mendengar penjelasan itu, akhirnya warga terima dengan rencana pembangunan SMP Satu Atap itu. Namun demikian, mereka meminta di desa mereka agar dibangun Sekolah Dasar. “Selama ini anak-anak harus menempuh jarak hingga 2,5 Kilometer untuk mencapai SDN 12. Maka dari itu kita minta agar dibangun SD di desa kami,” ujar Abdullah, Keuchik Desa Teupin Keube.
Keinginan itu mendapat anggukan dari Kepala SDN 12 Lhoksukon, Fakhrurizal. Menururnya, SDN 12 sudah over kapasitas. Pasalnya, para siswa berasal dari delapan desa. “Dengan adanya bangunan SD baru, maka dapat menampung siswa, mengingat jarak antara Teupin Keube – Seunebok Dalam cukup jauh dan mencapai 2,5 kilometer.”
Menjawab keinginan tersebut, kalangan DPR dari berbagai tingkat itu menjawab, “Jika memang dibutuhkan, maka pihak desa dapat melakukan pengajuan tersebut sesuai prosedur. Untuk pembangunan itu sendiri akan dimasukkan dalam anggaran tahun 2013 mendatang, mengingat dalam anggaran tahun ini sudah tidak tertampung lagi.”
Untuk pembangunan itu sendiri, warga diminta menyiapkan lahan yang memadai dan siap bangun tanpa butuh penimbunan, atau pun pembebasan lahan lagi.[]
sumber : atjehpost.com
foto: cut manda /THE ATJEH POST
Post a Comment