
Dari Niigata (daerah Furutsu), bantuan PIP PKS yang dibawa melalui tim Forkita & PKPU (Anwar, Sarno, dan Purwadi) berangkat pukul sembilan pagi dengan Mitsubishi mini-car. Perjalanan mobil ini melalui daerah Murakami, Oguni, Nan-yo, Yamagata, Seki-Sasaya, Sendai. Dengan jalur jalan yang ditempuh ialah jalur 7 (Niiigata s.d Murakami), jalur 113 (Murakami-Nanyo), jalur 13 (Nanyo-Yamagata), dan jalur 286 (Yamagata-Sendai) dengan masuk sebentar ke jalan tol di antara Sekizawa-Sasaya pada waktu menelusuri jalur 286. Perjalanan sekitar 225 km ini ditempuh dalam waktu sekitar 6 jam. Alhamdulillah, tidak ada halangan berarti, hanya ketika memasuki wilayah Sendai, beberapa ruas jalan dan sambungan jembatan nampak terbelah dan mengalami pergeseran
Kondisi terakhir di Sendai sampai tadi malam pukul 9, lampu baru bisa menyala sore harinya(13 Maret) di daerah sekitar tempat pengungsian orang Indonesia. Tapi masih banyak rumah penduduk yang lampunya terlihat masih padam. Terjadi kebakaran di sekolah tempat pengungsian tersebut yang diduga berasal dari korstlet kabel ketika listrik mulai dinyalakan. Di pinggiran kota Sendai masih gelap gulita kalau malam, listrik dan lampu lalulintas masih padam. Pembelian gasolin sangat dibatasi dan hanya satu-dua gasoline stand yang bisa melayani pembelian, sehingga terjadi antrian mobil sangat panjang sekitar 1-2 km. Tidak saja antrian mobil, tapi juga antrian orang yang ingin membeli makananpun terjadi di mini market yang sampai saat ini masih jarang yang buka. Food shortage. Air belum mengalir. Toshi-gas belum bisa digunakan sehingga banyak yang memasak dengan kayu bakar di luar rumah. Tapi dapur umum orang Indonesia bisa dilakukan di rumah pak Triyanto karena sumber gasnya bukan toshi-gas, dan kontruksi apartemennya dari kayu dan cukup kuat terhadap gempa. Seorang kakek orang Jepang tetangganya pun senang diberi masakannya, dan bahkan menyerahkan beras untuk dimasakkan di rumahnya. Tapi dengan adanya instruksi SBY agar semua orang Indonesia di Sendai harus mengungsi ke Tokyo, mungkin tidak ada yang bisa membantu lagi si kakek ini.
Kebetulan kami bertemu dengan Sato-san, satu-satunya Japanese muslim yang aktif di Sendai, yang sedang mencari makanan untuk keluarganya dengan sepeda. Sepeda menjadi satu-satunya alat transportasi yang banyak digunakan karena keterbatasan gasolin. Toko makanan yang dia tujupun masih tutup. Dia bercerita keluarganya selamat, tapi saudaranya yang tinggal di tepi pantai sampai saat ini belum diketahui kabarnya, padahal pantai tempat tinggalnya itu terpampang dalam koran kemarin yang ia tunjukkan, sudah dalam kondisi berantakan disapu tsunami. Menurut beliau juga, bangunan mesjid Sendai tidak rusak, tapi telahterjadi pergeseran di bagian fondasinya yang cukup parah.
Tsunami kali ini memang mengerikan. Dikabarkan kerusakan akibat tsunami ini sampai 3 km dari tepi laut. Jadi, semua bangunan beserta penghuninya di area ini sudah diratakan oleh air laut menjadi seperti sampah. Ada trainee binaan akh Tri yang tinggal juga di tepi laut daerah Shiogama yang sampai sekarang masih belum diketahui. KBRI sudah mencoba ke sana tapi tidak diperbolehkan oleh petugas karena tidak memiliki perlengkapan pengaman yang memadai seperti pelampung dsb. Daerahnya sulit untuk didekati. Jika PKPU bisa mengkoordinir relawan untuk mengevakuasi jenazah korban tsunami ini, tentu akan diapresiasi.
Bahan logistik yang kami bawa sangat tidak mencukupi, hanya bisa diberikan kepada Sato-san dan seorang muallaf yang menikah dengan orang Indonesia di Sendai. Itupun kata mereka akan dibagi-bagikan lagi ke orang lain yang lebih membutuhkan.
Penulis: Purwadi
by:pks-jepang.org
Post a Comment